Selasa, 02 Juni 2015

SEMINAR MANAJEMEN KEUANGAN : ARTIKEL , Pentingnya Analisis Risk and Return terhadap keputusan investasi pada saham


Abstrack

Each investor wants maximum returns and low risk but often they don’t calculate the expected rate of return and risk. Consequently they often experience a loss. This article outline process of assessing alternatives investment with a mathematical appoarch that investor are able to choose the optimal portofolio investments. Assessing alternative investment are calculate expected return and risk of individual asset and also calculate same point to portofolio to select the optimal portofolio. After the optimal portofolion is made then the next need an assement base on CAPM model to measure the level of return by investor based on the market price of risk and the importance of measuring the affect of systematic risk to the expected rate of return


PENDAHULUAN

Robert P. Miles dalam seminar The Genius of Warrant Buffet : the Science of Investing and the Art of Managing mengatakan bahwa 98% investor individu itu sebenarnya adalah investor yang tidak tahu apa – apa ( know-nothing investor). Hanya sekitar 2% investor yang cerdas. Dalam bukunya The Investment Club Book, John Wasik (1995) menyebutkan Ntional Association of Investors Corporations (NAIC) yang mewakili 8.000 klub pemilihan saham di Amerika merekomendasikan investor mengoleksi lima saham dalam portofolionya. Theory Rule of Five dari NAIC ini mengatakan dari lima saham, kemungkinan satu akan menjadi loser, tiga memberikan return biasa-biasa saja (mediocre), dan hanya satu saja yang akan menjadi pemegang saham saham sejati (the real winner).

Menurut Warren Buffett, jika kita memahami apa yang kita lakukan , hampir tidak ada risiko yang berarti. “ buy what you know and know what you buy” prinsip dasar yang diperkenalkam Lynch. Dan menurut Lynch lagi, menebak harga terendah sebuah saham yang sedang turun mirip seperti menagkap pisau yang sedang jatuh . pisau tidak didapat, tangan terluka.

Harry Markowitz pada tahun 1952 menemukan konsep diversifikasi. Dimana konsep ini hanya memerlukan tiga variable, yaitu return dan risiko dari masing masing asset serta koofisien korelasi antarkedua asset tersebut. Markowitz berhasil membuktikan bahwa risiko portofolio dapat menjadi minimum jika kedua asset itu mempunyai koofisien korelasi negative sempurna, yaitu negative 1. Markowitz juga menemukan diversivikasi selalu dapat menurunkan risiko portofolio sepanjang koofisien korelasi tidak positif sempurna atau lebih kecil dari 1. Diversifikasi yang dianjurkan adalah memperhitungkan koofisien korelasi bukan acak (random) yang sering dilakukan investor, yaitu dengan membagi dana ke dalam n alternative investasi sebesar masing – masing 1/n menurut Budi Frensidy dalam bukunya LIHAI Sebagai Investor.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa pentingnya analisis risiko dan tingkat pengembalian yang menjadi dasar pengambilan keputusan bagi investor sebelum menginvestasikan dananya pada saham melalui pendekatan matematika keuangan.

TINJAUAN PUSTAKA

Untuk memahami bagaimana memilih diantara alternative investasi saham kita harus melakukan proses seleksi ai antara alternative saham yang ada. Proses seleksi mengharuskan Kita memperkirakan dan mengevaluasi risk-return trade-off untuk investasi alternatif yang tersedia. Kita harus memahami bagaimana mengukur tingkat pengembalian dan risiko.

Budi Frensidy dalam bukunya LIHAI sebagai investor menyatakan bahwa tidak ada investor saham yang tidak pernah mengalami kerugian. Oleh karena itu menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan dan risiko dari tingkat pengembalian tersebut penting dilakukan untuk meminimalkan risiko atas investasi dan tidak menjadi investor yang naif.

Tingkat Pengembalian (Return) yang diharapkan dan Risiko

Tingkat pengembalian adalah semua keuntungan dan kerugian yang dialami keseluruhan pada investasi selama periode waktu tertentu, dihitung dengan membagi distribusi kas asset (deviden) selama periode tersebut; ditambah perubahan nilai ( capital gain/loss ) dengan nilai awal investasi tersebut.

Risiko adalah kemungkinan kerugian financial atau lebih formal variabilitas (ketidakpastian) return yang terkait dengan asset yang diberikan. Van Horn mendefinisikan risiko sebagai perbedaan antara pengembalian actual dengan pengembalian yang diharapkan.

Beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi saham :

Risiko spesifik perusahaan meliputi risiko bisnis dan risiko financial

Risiko spesifik pemegang saham meliputi risiko suku bunga, risiko pasar dan risiko likuiditas.

Risiko perusahaan dan pemegang saham meliputi risiko nilai tukar dan risiko pajak.

Risiko total investasi yang meliputi risiko sistematis dan risiko tidak sistematis.

Mengukur Tingkat Pengembalian dan Risiko Saham

Asset tunggal (stand-alone risk)

Mengukur tingkat pengembalian dan risiko asset tunggal seperti 1 jenis saham. Untuk mengukur tingkat pengembalian dan risiko dapat digunakan dua cara berdasarkan data yang digunakan historical return dan data probabilitas. Historical return menggunakan data masa lalu untuk mengukur tingkat pengembalian dan probabilitas untuk mengukur tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return.)

Cara mengukur tingkat pengembalian :

Arithmetic mean : membagi penjumlahan nilai return selama suatu periode dengan jumlah total nilai n (menggunakan data di masa lalu)

Geometric mean : perhitungan yang bersifat pelipatgandaan (compounding) dari aliran tingkat pengembalian selama periode tertentu. (menggunakan data masa lalu)

Probabilitas kejadian : distribusi probabilitas menununjukkan spesifikasi berapa tingkat return yang akan diperoleh dan berapa probabilitas terjadinya return tersebut

(ER)= Expected Return

P = Probabilitas return saham i

Ri=Return yang mungkin terjadi pada saham i

Setelah tingkat pengembalian yang diharapkan dihitung selanjutnya menghitung risiko untuk asset tunggal. Untuk mengukur risiko tingkat pengembalian yang diharapkan kita dapat melakukannya dengan menghitung Varians dan standard deviasi (merupakan akar kuadrat varians). Dimana keduanya merupakan ukuran besarnya penyebaran distribusi probabilitas, yang menunjukkan seberapa besar penyebarannya. Standard deviasi mengkur besarnya penyimpangan tingkat return yang diharapkan dengan probabilitas tingkat pengembalian. Semakin besar dispersi tingkat pengembalian yang diharapkan maka semakin besar ketidakpastian atau risiko investasi. Semakin besar tingkat pengembalian yang diharapkan maka semakin besar pula standard deviasinya dan semakin tinggi risiko yang harus di tanggung. Secara sistematis dapat ditulis :



CV=koofisien variasi

σ=standard deviasi

E(R)= return yang diharapkan

Contoh : jika diketahui Koofisien Variasi sebesar 0,56 maka artinya untuk mendapatkan 1% return kita harus menanggung risiko sebesar 0,56%

Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan beberapa asset (saham) yang dimiliki oleh investor. Asset tunggal terdiri dari satu asset sedangkan portofolio terdiri dari 2 atau lebih asset (saham). Tujuan dari pembetukan portofolio adalah untuk memaksimalkan tingkat pengembalian dan meminimumkan risiko yang harus di tanggung oleh investor. Portofolio bergantung kepada preferensi investor sehingga sangat penting untuk menentukan tingkat risiko yang dapat diterima secara umum. Tiga prefensi dasar investor terhadap risiko yaitu :

Risk-indiferrence : sikap terhadap risiko dimana tidak ada perubahan sikap terhadap perubahan risiko. Investor cenderung tidak perduli dengan risiko.

Risk-averse : sikap terhadap risiko dimana jika terjadi perubahan risiko maka investor cendrung untuk menghindari risiko tersebut

Risk-seeking : sikap terhadap risiko dimana orang tersebut cenderung lebih suka risiko.

Kecendrungan yang terjadi adalah kebanyakan investor merupakan risk-aversion sehingga mereka memutuskan untuk mendiversifikasikan risiko mereka pada portofolio

Model Markowitz

Model portofolio dasar dikembangkan oleh Harry Markowitz (1952, 1959), pendekatan ini mengatasi kelemahan diversifikasi secara naif karena dengan menggunkan model Markowitz, investor bisa memanfaatkan semua informasi yang tersedia sebagai dasar pembentukan portofolio optimal. Model Markowitz menjelaskan bahwa risiko portofolio bergantung kepada kovarian antar asset (saham). Kovarian adalah ukuran absolute yang menunjukkan sejauh mana dua variable mempunyai kecendrungan untuk bergerak bersama – sama. Dalam menghitung risiko portpofolio, tiga hal yang perlu ditentukan, yaitu :

Varians setiap saham

Kovarians antara satu saham dengan saham yang lainnya

Bobot portofolio untuk masing – masing saham

Menghitung Expected Return yang diharapkan dari portofolio

Menghitung expected return portofolio adalah dengan rata – rata tertimbang dari return yang diharapkan dari masing – masing asset individual yang ada di dalam portofolio. Secara sistematis dapat ditulis :

Rp = Return Portofolio

Wi=bobot portofolio pada saham i

Ri=expected return yang diharapkan pada saham i

Menghitung risiko portofolio

Menghitung risiko portofolio tidak sama dengan menghitung return fortofolio, yaitu dengan rata- rata tertimbang. Risiko portofolio bergantung kepada kovarian antar saham. Konsep penting dalam menghitung risiko dari portofolio adalah koofisien korelasi yang menjelaskan hubungan antara 2 variabel. Konsep korelasi merupakan konsep penting dalam pembentukan portofolio efisien. Penggunaan ukuran koofisien korelasi dalam konsep diversifikasi, yaitu:

Jika þ AB : + 1,0 ; Korelasi Positif Sempurna

Jika þ AB : 0 ; tidak ada korelasi

Jika þ AB : - 1,0; korelasi negative sempurna.

Secara matematis cara menghitung risiko portofolio dapat ditulis :

σ = standard deviasi portofolio

w= bobot saham padaportofolio, r1,2=kovarian
Model Indeks Tunggal

Model indeks tunggal dikembangkan oleh Wiliam Sharpe. Model ini mengaitkan perhitungan tingkat pengembalian yang diharapkan setiap asset pada return indeks pasar. Secara matematis, model indeks tunggal adalah sebagai berikut :

Ri = αi +βi RM + ei

Ri = Retrun sekuritas I αi=Retrun yang dipengaruhi risiko korporat

RM= Return Indeks Pasar βi=Ukuran kepekaan retrun sekuritas

ei= kesalahan residual

σPerhitungan return sekuritas dalam model indeks tunggal melibatkan dua komponen utama yaitu :

Komponen return yang terkait dengan dengan risiko korporat dilambangkan dengan α

Komponen return yang terkait dengan risiko pasar dilambangkan β

Dalam model indeks tunggal kovarians antara saham X dan Y dihitung atas dasar kesamaan respon atau sensitivitas kedua saham tersebut terhadap return pasar. Oleh sebab itu risiko yang relevan dalam model tersebut hanyalah risiko pasar. Secara sistematis dapat ditulis :

σp2 =βp2[σp2] + σep

Portolio optimal


Tujuan pembentukan portofolio optimal adalah untuk memaksimalkan return yang diharapkan pada tingkat risiko tertentu yang bersedia ditanggung investor.

Konsep dasar portofolio optimal :

Portofolio efisien : memaksimalkan return dengan tingkat risiko tertentu

Fungsi utilitas : merupakan prefensi seorang investor terhadap berbagai pilihan investasi dalam konteks ini investor merupakan risk-aversion

Model Portofolio Markowitz

Portofolio yang optimal adalah persinggungan kurva indiferen yang menggambarkan utilitas investor dengan permukaan efisien (efficient frontier). Karena portofolio pada titik ini menawarkan return yang diharapkan dan risiko sesuai dengan preferensi investor tersebut. Model Portofolio Markowitz mendiversifikasikan asset – asset berisiko tidak melibatkan asset bebas risiko sehingga model ini memiliki kelemahan tidak memperhitungkan konstribsi asset bebas risiko dalam memilih portofolio. Akibatnya terjadi perubahan pada Permukaan Efisien Markowitz. Dimana portofolio optimal tidak hanya terdiri dari asset berisiko tetapi juga terdiri dari asset bebas risiko

Model Keseimbangan

Capital Aset Pricing Model (CAPM)

Merupakan suatu model yang menghubungkan tingkat pengembalian yang dihrapkan dari suatu asset berisiko dengan risiko dari asset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang. Berdasarkan model CAPM, portofolio pasar seharusnya meliputi semua aet berisiko yang ada. Untuk itu diperlukan suatu proksi portofolio pasar, yang bisa diwakili oleh portofolioyang terdiri dari semua saham yang ada di asar. Proksi ini bisa diwakili oleh indeks pasar. Indeks pasar ini digunakan sebagai portofolio pasar. Portofolio tersebut merupakan portofolio yang terdiri dari asset berisiko, dan risiko portofolio itu akan diukur dengan menggunakan standard deviasi pasar. Untuk memahami hubungan rissiko dan return tersebut dapat digunakan konsep capital market line dan security market line. Slope CML menunjukkan harga pasar risiko untuk portofolio yang efisien atau harga keseimbangan risiko dipasar. Slope CML ini dapat diartikan bahwa setiap terjadi kenaikan 1% risiko portofolio, maka tambahan return yang disyaratkan ole pasar sebesar slope CML tersebut.

Security market line (SML) adalah garis yang menghubungkan tingkat return yang diharapkan dari suatu sekuritas dengan risiko sistematis beta. Risiko sekuritas yang relevan adalah beta, karena dalam pasar yang seimbang portofolio terbentuk sudah terdiversifikasi dengan baik sehingga risiko yang relevan adalah sisiko sitematis (beta). Beta merupakan ukuran sitematis suatu sekuritas yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Beta menunjukkan sensitivitas return sekuritas terhadap perubahan return pasar. Semakin tinggi beta suatu sekuritas maka semakin sensitive sekuritas tersebut terhadap perubahan pasar. Sebagai ukuran sensitivitas return saham, beta juga dapat digunakan untuk membandingkan risiko sistematis antara satu saham dengan saham yang lainnya.

Pentingnya menganalisis risiko sistematis terhadap tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor

Penelitian terdahulu, sebagaimana dikemukakan oleh Elly dan Leng (2002) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Risiko Sistematis dan Likuiditas Terhadap Tingkat Pengembalian Saham Badan-Badan Usaha yang Go-Public di Bursa Efek Jakarta pada Tahun 1999” menyimpulkan bahwa secara bersama-sama faktor risiko sistematis dan likuiditas yang diukur mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengembalian saham dari badanbadan usaha yang go public di Indonesia. Serta secara individu faktor risiko sistematis dan likuiditas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengembalian saham dan risiko sistematis lebih mempengaruhi tingkat pengembalian suatu saham dibandingkan dengan likuiditas saham.

Alfred (2005) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Risiko Sistematis (Beta) dan Likuiditas Terhadap Return Saham Perusahaan LQ-45 Periode Tahun 2001”. Disimpulkan bahwa secara parsial menunjukkan bahwa risiko sistematis dan likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Secara simultan menunjukkan bahwa variabel risiko sistematis (beta) dan likuiditas saham secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham.

Rickson (2006) dalam penelitiannya “Pengaruh Likuiditas Saham dan Risiko Sistematis Terhadap Return Saham Perusahaan Property di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002-2005”. Disimpulkan bahwa secara bersama-sama faktor likuiditas saham dan risiko sistematis mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan sektor property di Bursa Efek Jakarta. Secara individu faktor likuiditas saham mempunyai pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap terhadap return saham perusahaan property di Bursa Efek Jakarta. Sedangkan factor risiko sistematis mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham perusahaan property di Bursa Efek Jakarta.

Muhadi (2013) dalam penelitiannya “Pengaruh Idiosyncratic Risk dan Likuiditas Saham Terhadap Return Saham” menyimpulkan bahwa idiosyncratic risk berpengaruh negatif dan likuiditas berpengaruh positif terhadap return saham.


KESIMPULAN

Perhitungan tingkat pengembalian yang diharapkan dan risiko melalui Pendekatan matematika membantu para investor mengetahui tingkat pengembalian dan risiko dari seluruh alternative investasi saham yang ada. Risiko tidak dapat dihilangkan sama sekali tetapi risiko bisa di minimalisir. Inilah yang menjadi alasan mengapa pentingnya menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan dan risiko dari suatu investasi. Agar dalam menilai semua alternative investasi investor dapat meminimalkan risiko yang akan ditanggungnya dan mencapai portofolio yang optimum. Langkah-langkah dalam menilai investasi tersebut adalah menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan lalu menghitung risiko dari tingkat pengembalian dari asset individual. Selanjutnya penting juga untuk dihitung tingkat pengembalian yang diharapkan dan risiko dari suatu portofolio untuk investor yang tergolong risk-aversion. Dimana investor ini tidak menyukai risiko sehingga mereka perlu menghitung dua point yang telah di jelaskan diatas agar mereka mmpu memilih kelas asset yang optimal untuk membuat portofolio optimal. Setelah itu asset (saham) dan portofolio diukur dengan model keseimbangan CAPM untuk mengetahui hubungan tingkat pengambalian yang diharapkan dengan risiko pasar seimbang. Dan penting untuk mengukur pengaruh risiko sistematis atau sering disebut risiko pasar dalam model CAPM terhadap tingkat return yang diharapkan untuk meniali sensitivitas saham tersebut. Dengan demikian investor telah mengetahui risiko minimal dan return maksimal yang bisa mereka peroleh atas investasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Adams T. Andrew.2003.Investment Mathematic. Johm Wiley & Sons. Inc.England

Frensidy,Budi.2013.LIHAI sebagai Investor.Salemba Empat. Jakarta Selatan

Elton J. Edwin, 2014.Modren Portofolio Theory and Investment Analysis.9th ed.Johm Wiley & Sons. Inc. England

Gitman J. Laurance.The Principle of Managerial Finance.10th ed. Track Software,Inc

Lasher M.Wiliam.Practical Financial Management.5th ed. Thomson South-Western.USA

Davesta,Rivail.2013. Pengaruh Risiko Sistematis dan Likuiditas Saham Terhadap Return Saham pada Industri Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2010-2012.Jurnal Ekonomi. Hal 20-21

Tandelilin,Eduardus.2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi pertama. BPFE-YOGYAKARTA.Yogyakarta





0 komentar:

Posting Komentar