ISU
– ISU KONTEMPORER DALAM KEPEMIMPINAN
Teori Kepemimpinan kontemporer merupakan teori yang
dikembangkan baru-baru ini. Dalam bagian ini kami menyajikan tiga teori kepemimpinan
kontemporer yang komponen umumnya adalah bahwa teori itu menampilkan pemimpin
sebagai sosok yang menggunakan kata-kata, gagasan dan kehadiran fisik mereka
untuk ‘memerintah pasukan, yaitu : Kepemimpinan kharismatik, kepemimpinan
transformasional dan
kepemimpinan visioner.
A.
KEPEMIMPINAN KHARISMATIK
Max Weber, seorang sosiolog adalah ilmuwan pertama yang membahas
kepemimipinan karismatik. Lebih dari seabad yang lalu, ia mendefinisikan
karisma (yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “anugrah”) sebagai suatu
sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan
biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super
atau paling tidak daya-daya istimewa.
Peneliti pertama yang membahas kepemimipinan karismatik dalam kaitannya dengan PO adalah Robert House. Menurut teori kepemimipinan karismatik House, para pengikut memandang sebagai sikap heroik atau kepemimipinan yang luar biasa saat mengamati perilaku tertentu.
Peneliti pertama yang membahas kepemimipinan karismatik dalam kaitannya dengan PO adalah Robert House. Menurut teori kepemimipinan karismatik House, para pengikut memandang sebagai sikap heroik atau kepemimipinan yang luar biasa saat mengamati perilaku tertentu.
a.1 Pemimipin Karismatik : Dilahirkan atau Diciptakan ?
Meskipun beberapa orang beranggapan bahwa karisma merupakan anugerah dan
oleh karenanya tidak bisa dipelajari, sebagian besar ahli percaya seseorang
juga bisa dilatih untuk menampilkan perilaku yang karismatik dan mendapat
manfaat dari menjadi seorang pemimpin yang karismatik. Memang terdapat
kecenderungan tertentu, dan bisa jadi hal tersebut itu bermanfaat, tetapi tidak
berarti orang tidak bisa berubah. Beberapa orang pengarang mengatakan bahwa
seseorang bisa belajar menjadi karismatik dengan mengikuti proses yang terdiri
dari tiga tahap.
- seseorang perlu mengembangkan aura karisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis, menggunakan kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme, dan berkomunikasi dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata.
- seseorang menarik orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain tersebut untuk mengikutinya.
- seseorang menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.
a.2 Cara Pemimpin yang
Karismatik Mempengaruhi Pengikutnya
Dimulai dari pernyataan visi sang pemimpin. Visi (vision) adalah strategi
jangka panjang untuk mencapai tujuan atau serangkai tujuan. Visi ini memberikan
nuansa kontinuitas bagi para pengikut dengan cara menghubungkan dengan keadaan
saat ini dengan masa depan yang lebih baik bagi organisasi. Sebuah visi
belumlah lengkap tanpa adanya pernyataan visi (vision statement), yaitu
pernyataan formal visi atau misi organisasi. Pemimpin yang karismatik bisa
menggunakan pernyataan visi untuk menanamkan tujuan dan sasaran ke benak
pengikutnya. Setelah visi dan misi ditetapkan, sang pemimpin kemudian
mengkomunikasikan ekspektasi kinerja yang tinggi dan meyakini bahwa para
bawahan bisa mencapainya. Hal ini bisa meningkatkan rasa percaya diri bawahan.
Selanjutnya, sang pemimpin menyatakan, melalui kata-kata dan tindakan,
seperangkat nilai yang baru, dan melalui perilakunya, memberikan teladan untuk
ditiru pengikutnya. Bagian penting dari sebuah visi adalah kemampuan
inspirasionalnya yang terpusat pada nilai, dapat direalisasikan, dengan
gambaran dan artikulasi yang kuat. Sebuah visi cenderung gagal bila tidak
menawarkan pandangan kedepan yang jelas dan lebih baik bagi organisasi dan
anggota-anggotanya. Kepemimpinan karismatik bisa memengaruhi beberapa
pengikutnya melebihi yang lain. Penelitian menunjukan, misalnya, bahwa banyak
orang lebih menerima kepemimpinan karismatik saat mereka menghadapi krisis,
berada dalam keadaan stres, atau bila merasa hidupnya terancam. Secara lebih
umum, beberapa orang memiliki kepribadian yang sangat mudah menerima
kepemimpinan karismatik.
a.3 Sisi Gelap Kepemimpinan
Karismatik
Tidak semua pemimpin yang
karismatik selalu bekerja demi kepentingan organisasinya. Banyak dari pemimpin
ini menggunakan kekuasaan mereka untuk membangun perusahaan sesuai citra mereka
sendiri. Hal yang paling buruk, karisma yang egois ini membuat si pemimpin
menempatkan kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi diatas tujuan organisasi.
B.
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Tipe pemimpin seperti ini mengarahkan atau memotivasi
para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas
peran dan tugas mereka. Pemimpin transformasional (transformational leaders).
Tipe pemimpin seperti ini mengarahkan atau memotivasi para pengikutnya pada
tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka.
Pemimpin trasnformasional (transformational leaders) menginspirasi para
pengikutnya untuk menyampingkan kepentingan pribadi mereka demi kebaikan
organisasi dan mereka mampu memiliki pengaruh yang luar biasa pada diri para
pengikutnya.
b.1 Cara Kepemimpinan Transformasional Bekerja
Para pemimpin transformasional mendorng bawahannya
agar lebih inovatif dan kreatif. Para pemimpin yang transformasional lebih
efektif karena mereka sendiri lebih kreatif, tetapi mereka juga lebih efektif
karena mampu mendorong para pengikutnya menjadi kreatif pula.
Adanya tujuan yang ditetapkan merupakan mekanisme penting lain yang menjelaskan bagaimana kepemimpinan transformasional bekerja. Para pengikut pemimipin transformasional cenderung mengejajar tujuan-tujuan ambisius, memahami dan menyetujui tujuan-tujuan strategis organisasi, dan yakin bahwa tujuan-tujuan yang mereka kejar itu memang penting. Hal yang lebih penting lagi adalah memiliki orang-orang untuk diajak bekerja sama, yang memiliki keinginan, komitmen, perhatian, dan keinginan bersaing yang sama untuk bersam-sama menggapai tujuan yang sama.
Adanya tujuan yang ditetapkan merupakan mekanisme penting lain yang menjelaskan bagaimana kepemimpinan transformasional bekerja. Para pengikut pemimipin transformasional cenderung mengejajar tujuan-tujuan ambisius, memahami dan menyetujui tujuan-tujuan strategis organisasi, dan yakin bahwa tujuan-tujuan yang mereka kejar itu memang penting. Hal yang lebih penting lagi adalah memiliki orang-orang untuk diajak bekerja sama, yang memiliki keinginan, komitmen, perhatian, dan keinginan bersaing yang sama untuk bersam-sama menggapai tujuan yang sama.
b.2 Evaluasi atas Kepemimpinan Transformasional
Keseluruhan bukti mengindikasikan bahwa kepemimipinan
transformasional memiliki korelasi yang lebih kuat dibandingkan kepemimipinan
transaksional dengan tingkat perputaran karyawan yang lebih rendah,
produktivitas yang lebih tinggi, dan kepuasan karyawan yang lebih tinggi.
Seperti halnya karisma, kepemimpinan transformasional bisa dipelajari. Sebuah
studi atas manajer bank Kanada menemukan bahwa para manajer yang mengikuti
pelatihan kepemimpinan transformasional memiliki kinerja bank cabang yang jauh
lebih baik daripada para manajer yang tidak mengikuti pelatihan. Studi-studi
lainnya menunjukan hasil serupa.
C.
KEPEMIMPINAN VISIONER
Kepemimpinan Visioner merupakan kemampuan menciptakan
dan mengartikulasikan visi yang realistis, kredibel, dan menarik mengenai masa
depan organisasi atau unit organisasi yang tengah tumbuh dan membaik dibanding
saat ini. Kualitas visi, sifat dasar yang menentukan keberhasilan tampaknya
adalah kemungkinannya memberikan inspirasi yang berpusat pada nilai dan dapat
diwujudkan, disertai gambaran dan artikulasi yang unggul.
Issue Kepemimpinan
a. Kepemimpinan Kharismatis: pengikut terpicu kemampuan kepemimpinan heroic/luar biasa
ketika mereka mengamati perilaku pemimpin mereka.
b. Kepemimpinan
transformasional: pemimpin yang menginpirasi pengikut untuk melampaui
kepentingan pribadi mereka dan mampu membawa dampak mendalamdan luar biasa pada
para pengikut.
a. Kepemimpinan Visioner: kemampuan menciptakan dan mengartikulasikan visi
yangrealistis, kredibel dan menarik mengenai masa depan organisasi
KEPERCAYAAN DAN KEPEMIMPINAN
Kepercayaan merupakan atribut utama yang dikaitkan
dengan kepemimpinan, dan jika kepercayaan ini luntur, dampaknya bisa serius
terhadap kinerja kelompok. Kepercayaan dan dapat dipercaya membantu pemimpin
untuk mendapatkan pengetahuan dan kerja sama yang dibutuhkannya.Bila pengikut
mempercayai pemimpinnya, mereka akan bersedia menanggung dampak dari tindakan
sang pemimpin, karena yakin bahwa dan kepentingan mereka tidak akan salah
digunakan. Orang tidak mau mengikuti seseorang yang mereka anggap tidak jujur
atau memanfaatkan mereka.
TIGA JENIS KEPERCAYAAN
A. Kepercayaan
Berbasis Pencegahan
Hubungan yang paling rapuh terhadap dalam kepercayaan berbasis pencegahan
(deference – based trust). Satu saja, pelanggaran atau inkonsistensi akan
merusak hubungan. Bentuk kepercayaan seperti ini didasarkan pada kekhawatiran
akan terjadinya pembalasan dendam jika kepercayaan di khianati. Kepercayaan
berbasis pencegahan hanya bisa berhasil sampai pada tingkat dimungkinkannya ada
hukuman, konsekuensi yang jelas, dan hukuman tersebut benar-benar diberlakukan
bila kepercayaan dilanggar. Agar tetap bertahan, potensi kerugian dari
interaksi di masa datang dengan pihak lain harus melampui potensi keuntungan
akibat melanggar ekspektasi.
B. Kepercayaan
Berbasis Pengetahuan
Kebanyakan hubungan organisasi berakar pada kepercayaan berbasis
pengetahuan (knowledge-based trust). Artinya, kepercayaan didasarkan pada
kemampuan memprediksi
perilaku yang bersumber dan pengalaman berinteraksi.
Kepercayaaan berbasis pengetahuan mengendalkan informasi dan bukan pencegahan. Pengethuan mengenai pihak lain dan kemampuan memprediksi sikap-sikap mereka menggantikan kontrak, hukuman, dan perjanjian hukum yang umum berlaku pada kepercayaan berbasis pencegahan. Pengetahuan ini terus berkembang dari waktu ke waktu, bertambah seiring pengalaman sehingga terbangun kepercayaan dan kemampuan untuk memprediksi
Dalam konteks organisasional, sebagian besar hubungan manajer karyawan adalah kepercayaan berbasis pengetahuan. Kedua pihak memiliki pengelaman bekerja satu sama lain yang cukup sehingga mereka mengetahui apa yang di harapkan. Pengalaman panjang dari interaksi yang terbuka dan jujur cenderung tidak tergoyahkan hanya oleh satu pelanggaran
Kepercayaaan berbasis pengetahuan mengendalkan informasi dan bukan pencegahan. Pengethuan mengenai pihak lain dan kemampuan memprediksi sikap-sikap mereka menggantikan kontrak, hukuman, dan perjanjian hukum yang umum berlaku pada kepercayaan berbasis pencegahan. Pengetahuan ini terus berkembang dari waktu ke waktu, bertambah seiring pengalaman sehingga terbangun kepercayaan dan kemampuan untuk memprediksi
Dalam konteks organisasional, sebagian besar hubungan manajer karyawan adalah kepercayaan berbasis pengetahuan. Kedua pihak memiliki pengelaman bekerja satu sama lain yang cukup sehingga mereka mengetahui apa yang di harapkan. Pengalaman panjang dari interaksi yang terbuka dan jujur cenderung tidak tergoyahkan hanya oleh satu pelanggaran
C. Kepercayaan
Berbasis Identifikasi
Tingkat kepercayaan yang tertinggi dicapai bila
terjalin hubungan emosional antarpihak yang ada. Hal ini memungkinkan satu
pihak bertindak sebagai seorang agen bagi yang lain
dan menggantikan orang tersebut dalam transaksi antarpersonal, yang disebut
sebagai Kepercayaan Berbasis Identifikasi (identification-based trust).
Kepercayaan muncul karena pihak-pihak saling memahami niat dan menghargai
keinginan yang lain. Pemahaman mutual ini dibangun sampai ke titik tertentu
sehingga masing-masing bertindak secara efektif demi pihak lain.
PRINSIP-PRINSIP DASAR
KEPERCAYAAN
v Ketidakpercayaan mengalahkan kepercayaan.
Ketidakpercayaan akan mendorong seseorang untuk menyembunyikan informasi
dan bertindak secara oportunistik untuk memanfaatkan orang lain. Untuk melawan
berulangnya eksploitasi, orang yang tadinya percaya menjadi tidak percaya.
v Kepercayaan mewariskan kepercayaan.
Menunjukkan kepercayaan kepada orang lain cenderung mendorong munculnya
balasan yang serupa.
v Pertumbuhan seringkali menyembunyikan rasa tidak
percaya.
Pertumbuhan memberi peluang kepada pemimpin untuk mendapatkan promosi yang
cepat sehingga pemimpin cenderung menyelesaikan masalah juga dengan cara cepat
untuk menghindarkan dari deteksi dini oleh tingkat manajemen yang lebih tinggi
dan membiarkan masalah yang muncul dari ketidakpercayaan ditangani para
penggantinya.
v Penurunan atau perampingan merupakan ujian tertinggi bagi
tingkat kepercayaan.
Ketika perusahaan merusak ikatan kesetiaan dengan memecat karyawan, para
pekerja cenderung sulit untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh pihak
manajemen.
v Kepercayaan meningkatkan kekompakan.
Kepercayaan berarti orang memiliki keyakinan bahwa mereka bisa saling
mengandalkan.
v Kelompok yang tidak memiliki rasa percaya merusak
dirinya sendiri.
Apabila anggota kelompok tidak saling percaya, mereka akan mengalami
kemunduran dan terpecah belah.
v Ketidakpercayaan
umumnya menurunkan produktivitas.
Ketidakpercayaan membuat orang terfokus pada perbedaan kepentingan para
anggota, sehingga mempersulit pencapaian tujuan bersama. Iklim ketidakpercayaan
cenderung mendorong bentuk-bentuk disfungsional dari konflik dan memperlambat
kerja sama.
PERAN KEPEMIMPINAN KONTEMPORER
1. MENYEDIAKAN
KEPEMIMPINAN TIM
Pemimpin yang efektif dalam sebuah tim harus dapat menyeimbangkan saat
untuk meninggalkan tim dan saat untuk turun tangan ke dalam tim. Tugas
pemimpin tim diantaranya :
Ø Penghubung dengan para konstituen eksternal, yakni
mewakili tim ke para konstituen lainnya (manajemen puncak, tim internal lain,
pelanggan, dan pemasok), mengamankan sumber-sumber daya yang dibutuhkan,
memperjelas ekspektasi pihak lain terhadap tim, mengumpulkan informasi dari
luar, dan berbagi informasi dengan para anggota tim.
Ø Menyelesaikan masalah. Terkait dengan masalah,
pemimpin lebih berkontribusi dengan mengajukan berbagai pertanyaan, membantu
tim membicarakan masalah tersebut, dan memperoleh sumber-sumber daya yang
dibutuhkan dari pihak-pihak luar.
Ø Manajer konflik, yakni apabila timbul pertentangan
pemimpin membantu memproses konflik tersebut.
Ø Pelatih, yakni menjelaskan ekspektasi dan peran,
mendidik, menawarkan dukungan, memberi semangat, dan melakukan apa saja yang
diperlukan untuk membantu anggota tim meningkatkan kinerjanya.
2. MENTORING
Seorang mentor adalah karyawan senior yang membantu
dan mendukung karyawan yang masih kurang berpengalaman (sebagai seorang anak
didik). Hubungan mentoring dijelaskan dalam 2 kategori fungsi umum – fungsi
karier dan fungsi psikososial.
Fungsi-fungsi
karier
|
Fungsi-fungsi
psikososial
|
· Melobi agar anak didik mendapatkan
tugas yang menantang dan masuk akal.
|
· Memberi saran kepada anak didik
untuk mengatasi kecemasan dan ketidakpastian guna meningkatkan rasa percaya
dirinya.
|
· Melatih anak didik mengembangkan
keahliannya dan mencapai tujuan kerja .
|
· Berbagi pengalaman pribadi dengan
anak didik.
|
· Membantu anak didik bertemu
orang-orang yang memiliki pengaruh dalam organisasi.
|
· Menjalin persahabatan dan
penerimaan yang baik.
|
· Melindungi anak didik dari
risiko-risiko yang bisa merusak reputasinya.
|
· Bertindak sebagai contoh atau
model.
|
· Membantu anak didik dengan cara
mencalonkan mereka untuk mendapatkan promosi.
|
|
· Bertindak seolah-olah sebagai
dewan yang mendengarkan berbagai ide yang mungkin dimiliki oleh anak didik
tetapi segan disampaikan ke supervisor di atasnya.
|
3.
KEPEMIMPINAN MANDIRI
Cara para pemimpin menyiapkan pemimpin mandiri :
- Menjadi model pemimpin bagi diri sendiri, yang dilakukan : observasi diri, tetapkan tujuan pribadi, arah pribadi, dan tujuan yang menantang, kemudian tunjukkan perilaku-perilaku ini dan dorong orang lain untuk berlatih dan mempraktikkan perilaku tersebut.
- Dorong karyawan untuk menciptakan tujuan-tujuan yang mereka tetapkan sendiri.
- Beri penghargaan pada diri sendiri untuk memperkuat dan meningkatkan perilaku yang diinginkan. Sebaliknya, berikan hukuman hanya apabila karyawan terbukti tidak jujur atau melakukan sesuatu yang destruktif.
- Ciptakan pola pikir yang positif.
- Ciptakan iklim kepemimpinan mandiri.
- Dorong sikap kritis pada diri sendiri.
Asumsi yang mendasari kepemimpinan mandiri adalah bahwa orang memiliki
tanggung jawab, kemampuan, dan inisiatif tanpa hambatan eksternal dari atasan,
aturan atau regulasi. Dengan dukungan yang memadai, seseorang bisa memonitor
dan mengendalikan perilaku mereka sendiri.
4.
KEPEMIMPINAN ONLINE
Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa manajer dan karyawannya semakin
terhubung dalam jaringan dibandingkan dengan kedekatan geografis. Dalam
komunikasi tatap muka, kata-kata yang kasar bisa diperhalus dengan tindakan
nonverbal. Komunikasi digital menuntut pemimpin untuk dapat menyampaikan
karismanya melalui kata-kata tertulis, dapat menentukan secara tepat
pilihan-pilihan kata, struktur, nada, dan gaya komunikasi digitalnya, mengembangkan
keahlian membaca yang tersirat dalam pesan-pesan yang diterima, dan
mengembangkan keahlian dalam mengartikan komponen emosional dari suatu pesan.
Tantangan yang dihadapi pemimpin online adalah mengembangkan dan memelihara
kepercayaan dikarenakan kedekatan dan interaksi tatap muka yang sangat kurang.
1. KEPEMIMPINAN
MORAL
Topik
kepemimpinan dan etika secara mengejutkan mendapatkan sedikti perhatian. Baru
akhir-akhir ini saja para ahli etika dan peneliti kepemimpina mulai
mempertimbangkan implikasi etis dari kepemimpinan. Kepemimpinan tidak bebas
dari nilai. Sebelum kita menilai pemimpin macam apa yang efektif, kita
hendaknya memperhatikan baik upaya yang dugunakan oleh pemimpin untuk mencapai
sasarannya mempunay muatan moral dari sasaran tersebut.
TANTANGAN-TANTANGAN BAGI
PEMBENTUKAN KEPEMIMPINAN
a) KEPEMIMPINAN
SEBAGAI SUATU ATRIBUSI
Teori atribusi kepemimpinan (attribution theory of
leadership) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah atribut yang
dibuat orang atas orang lain. Teori ini menunjukkan bahwa orang menganggap
pemimpin memiliki sifat-sifat seperti kecerdasan, kepribadian yang
menyenangkan, keahlian verbal yang kuat, agresifitas, pemahaman, ketekunan,
atau bahkan keteguhan pada keputusan yang telah ditetapkan. Pada tingkatan
organisasi, kerangka atribusi berkaitan dengan kondisi menggunakan kepemimpinan
untuk menjelaskan hasil-hasil organisasional. Hal ini membantu menjelaskan
rawannya CEO (dan pegawai negara tingkat tinggi) untuk dipersalahkan
bila organisasi menderita kemunduran finansial ataupun cenderung diberi
penghargaan untuk hasil-hasil keuangan yang positif. Sejalan dengan teori
atribusi kepemimpinan, hal penting untuk dikatakan sebagai pemimpin yang
efektif adalah memproyeksikan tampilan menjadi seorang pemimpin dan bukan
berfokus pada pencapaian aktual.
b)
SUBSITUSI
DAN PENETRALISASI KEPEMIMPINAN
Banyak kesuksesan atau kegagalan organisasi disebabkan oleh faktor-faktor
di luar pengaruh kepemimpinan, selain itu pemimpin tidak selalu memiliki
pengaruh terhadap para pengikutnya. Penetralisasi membuat perilaku pemimpin
tidak mungkin menghasilkan perbedaan pada pengikutnya. Sedangkan substitusi
membuat pengaruh pemimpin menjadi tidak perlu. Validitas substitusi dan
penetralisasi kepemimpinan masih menimbulkan kontroversi, karena. Teori
tersebut sangat rumit – terdapat banyak substitusi dan penetralisasi yang
mungkin untuk banyak jenis perilaku pemimpin yang berbeda pada situasi yang
juga berbeda. Kadang-kadang perbedaan antara substitusi dan penetralisasi masih
belum jelas
MENEMUKAN DAN MENCIPTAKAN PEMIMPIN
YANG EFEKTIF
a) Seleksi
Keseluruhan proses yang ditempuh organisasi untuk mengisi posisi manajemen pada hakikatnya merupakan latihan dalam upaya mengidentifikasi individu-individu yang akan menjadi pemimpin yang efektif.
b) Pelatihan
Dalam catatan yang optimistic, terdapat bukti yang mengemukakan bahwa pelatihan perilaku melalui pelatihan pemodelan dapat meningkatkan kemampuan individu memperlihatkan cirri kepemimpinan kharismatik.
Keseluruhan proses yang ditempuh organisasi untuk mengisi posisi manajemen pada hakikatnya merupakan latihan dalam upaya mengidentifikasi individu-individu yang akan menjadi pemimpin yang efektif.
b) Pelatihan
Dalam catatan yang optimistic, terdapat bukti yang mengemukakan bahwa pelatihan perilaku melalui pelatihan pemodelan dapat meningkatkan kemampuan individu memperlihatkan cirri kepemimpinan kharismatik.
RINGKASAN
DAN IMPLIKASI BAGI PARA MANAJER
Bagi para
manajer yang memberikan pelatihan pada cara mengisi posisi kunci dalam
organisasi mereka dengan para pemimpin yang efektif, kami telah menunjukkan
bahwa tes dan wawancara membantu mengidentifikasi orang yang memilki cirri
kepemimpinan. Selain berfokus pada seleksi kepemimpinan, para manajer harus
juga mempertimbangkan investasi dalam pelatihan kepemimpinan, banyak orang yang
memiliki potensi kepemimpinan dapat meningkatkan keterampilan mereka melalui
kursus formal, loka karya, rotasi tanggungjawab pekerjaan, pelatihan, dan
mentoring.
Berikut
disajikan contoh kepemimpinan kontemporer :
Kepemimpinan Karismatik
Denis
Kozlowski mencerminkan sisi gelap dari kepemimpinan karismatik. Mantan CEO Tyco
International yang karismatik ini dituduh dan terbukti bersalah menyalahgunakan
dana perusahaan untuk membiayai gaya hidupnya yang mewah. Kozlowski terbukti
bersalah melakukan pencurian besar-besaran, kecurangan sekuritas, konspirasi,
dan tuntutan lainnya, karena mengambil lebih dari $150 juta dalam bentuk bonus
dari Tyco. Ia juga melakukan kecurangan terhadap para pemegang saham dengan
menjual $430 juta saham Tyco dengan melakukan penipuan mengenal kesehatan
keuangan perusahaan.
Kepemimpinan karismatik bukan berarti merupakan kepemimpinan yang tidak efektif. Secara keseluruhan, efektivitas memang terbukti. Masalahnya adalah pemimpin karismatik tidak selalu menjadi jawaban. Sebuah organisasi dengan pemimpin yang karismatik lebih cenderung meraih sukses, tetapi kesuksesan tersebut bergantung pada situasi dan visi sang pemimpin.
Kepemimpinan karismatik bukan berarti merupakan kepemimpinan yang tidak efektif. Secara keseluruhan, efektivitas memang terbukti. Masalahnya adalah pemimpin karismatik tidak selalu menjadi jawaban. Sebuah organisasi dengan pemimpin yang karismatik lebih cenderung meraih sukses, tetapi kesuksesan tersebut bergantung pada situasi dan visi sang pemimpin.
Kepemimpinan
Transformasional
A. G. Lafley adalah pemimpin transformasional. Sejak menjadi CEO
Procter & Gamble pada tahun 2000, Lafle telah membawa kreativitas vdan
fleksibilitas ke dalam perusahaan yang tingkat pertumbuhannya saat itu lambat.
Ia menginspirasikan para karyawan untuk mengambil tanggung jawab dalam
menjalankan visinya guna mengubah P&G dengan meningkatkan inovasi merek-
merek utama seperti pasta gigi Crest ke produk- produk inovatif seperti pemutih
gigi dan sikat gigi. Perubahan yang dilakukan Lafle telah meningkatkan
pendapatan, laba, dan harga saham P&G.
Para pemimpin transformasional mendorong bawahannya agar lebih
inovatif dan kreatif. Para pemimpin yang transformasional lebiih efektif karena
mereka sendiri lebih kreatif, tetapi mereka juga lebih efektif karena mampu
mendorong para pengikutnya menjadi kreatif pula. Para pengikut transformasional
cenderung mengejar tujuan- tujuan ambisius, memahami dan menyetujui tujuan-
tujuan strategis organisasi.
Kepemimpinan
Visioner
Menjadi pemimpin yang visioner adalah kunci
keberhasilan pria kelahiran Munich ini dalam membawa Allianz meraih pencapaian
tertingginya di dunia asuransi Indonesia. Sebagai
CEO Joachim terhitung berpenampilan tenang dan bersahaja. Sesekali ia
mengekspresikan humornya. Di sisi lain, garis-garis wajahnya menunjukkan
pengalamannya sebagai seorang pemimpin. Setelah mendapuk sukses di Allianz
Ukraina, Jepang dan Dubai, Indonesia menjadi negara yang harus dia taklukkan
selanjutnya. Selama hamir empat tahun ini menduduki posisinya di Indonesia,
Joachim harus menaklukkan sejumlah tantangan yang menghadang. Di bawah kepemimpinannya selama hampir
empat tahun ini, Allianz berhasil mencatat kinerja keuangan yang kuat tahun
2012 lalu. Perusahaan ini mampu berdiri sebagai salah satu top 5 Perusahaan
Asuransi terbaik di Indonesia bersama Prudential, Sinar Mas, Mega Life dan
Manulife. Lebih unik lagi, Joachim menyebut dirinya pemimpin yang ‘otentik”.
Pemimpin yang tidak takut dengan kontroversi. Pemimpin yang berani menampilkan
dirinya ‘seutuhnya’. Bukan ‘seadanya’. Ia mampu menampilkan gaya kepemimpinan
sesuai dengan kondisi tim dan perusahaan.
“Saya ingin mengatakan bahwa saya tidak selalu menjadi bos,” ujarnya.
“Saya juga harus bisa bermain sebagai anggota tim. Ketika memimpin, saya juga harus mampu memainkan berbagai peran, baik sebagai tipe pemimpin yang inklusif atau eksklusif, otokratis atau diktator. Gunakan berbagai gaya berdasarkan keperluan. Jadi Anda bisa bermain-main sedikit dengan gaya kepemimpinan tersebut.”
“Tentu saja pada akhirnya tidak ada style yang lebih baik atau mana yang buruk. Tapi yang pasti dia harus otentik. Ciptakan gaya Anda sendiri. Tentu saja, jika perusahaan Anda sedang menghadapi masalah, Anda perlu mengambil keputusan dengan cepat. Seorang pemimpin harus bisa mengambil komando dan memutuskan ‘ini yang harus kita lakukan!,” tutup Joachim.
“Saya ingin mengatakan bahwa saya tidak selalu menjadi bos,” ujarnya.
“Saya juga harus bisa bermain sebagai anggota tim. Ketika memimpin, saya juga harus mampu memainkan berbagai peran, baik sebagai tipe pemimpin yang inklusif atau eksklusif, otokratis atau diktator. Gunakan berbagai gaya berdasarkan keperluan. Jadi Anda bisa bermain-main sedikit dengan gaya kepemimpinan tersebut.”
“Tentu saja pada akhirnya tidak ada style yang lebih baik atau mana yang buruk. Tapi yang pasti dia harus otentik. Ciptakan gaya Anda sendiri. Tentu saja, jika perusahaan Anda sedang menghadapi masalah, Anda perlu mengambil keputusan dengan cepat. Seorang pemimpin harus bisa mengambil komando dan memutuskan ‘ini yang harus kita lakukan!,” tutup Joachim.
DAFTAR PUSTAKA
Robbins,P Stephen.Perilaku
Organisasi.Edisi 12. Salemba Empat. Jakarta: 2008
Sumber Internet :
0 komentar:
Posting Komentar